Tags

Istilah “ekspektasi inflasi” mencuat belakangan ini dalam rilis resmi statement kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI). Pada awal Februari 2011, bank sentral di luar perkiraan banyak kalangan menaikkan BI rate sebanyak 25 basis poin. Keputusan ini, menurut BI saat itu, diambil untuk mengendalikan ekspektasi inflasi yang mulai meningkat. Pada 4 Maret lalu, bank sentral menahan bunga acuan di level 6,75%. BI kali ini menyatakan bahwa ekspektasi inflasi di pasar keuangan mulai turun sebagai respons atas kenaikan BI rate sebulan sebelumnya, namun ekspektasi di kalangan produsen, pedagang, dan konsumen belum banyak terpengaruh. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan ekspektasi inflasi di sini? Bagaimana variabel ini bisa berdampak terhadap inflasi aktual dan, dengan demikian, mempengaruhi kebijakan moneter?

“To expect defeat is nine-tenths of defeat itself.” (Henry Louis Mencken)

Ekspektasi inflasi mengacu pada pandangan atau ramalan pelaku ekonomi mengenai perubahan harga yang terjadi di masa mendatang. Pemahaman agen ekonomi akan prospek harga ke depan melatarbelakangi keputusan yang diambilnya saat ini, yang bahkan dapat mempengaruhi harga aktual atau bahkan variabel ekonomi lain di luar harga. Jika, misalnya, seorang konsumen mengetahui bahwa suatu barang akan dikenakan pajak penjualan di masa mendatang yang akan membuat harganya naik, dia akan memilih membeli barang itu sekarang, ketika harganya masih belum naik. Pola pikir macam ini yang terejawantahkan secara massal akan mendongkrak penjualan. Bila kenaikan permintaan ini tidak bisa diimbangi tambahan pasokan, harga tentu akan meningkat. Dalam negosiasi upah, seorang calon pekerja juga memperhitungkan ekspektasi inflasi ke depan. Karena upah dipandang perusahaan sebagai bagian dari komponen biaya (input), ekspektasi inflasi secara tidak langsung juga mempengaruhi kebijakan penetapan harga output atau kebijakan investasinya.

Di sektor keuangan, ekspektasi inflasi adalah salah satu variabel krusial yang menentukan tingkat bunga dan imbal hasil. Jika seorang calon penabung menduga bahwa inflasi di masa depan akan tinggi, dia tentu akan mencari bunga deposito yang tinggi pula supaya investasinya secara riil masih membawa hasil. Di pasar surat utang, investor akan mengharapkan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi jika ekspektasi inflasinya meningkat, dan kondisi ini akan menyebabkan harga obligasi turun. Di Indonesia, ekspektasi inflasi belakangan ini menjelma menjadi salah satu faktor yang menentukan arah dan stabilitas pasar keuangan. Pada awal 2011, muncul anggapan, terutama dari pihak asing, bahwa Bank Indonesia behind the curve atau terlambat menaikkan suku bunga dalam merespons penguatan tekanan inflasi. Kekhawatiran ini berujung pada penjualan aset portofolio asing selama Januari. Salah satu dampaknya, imbal hasil surat berharga negara naik dan ini dicermati sebagai salah satu indikasi peningkatan ekspektasi inflasi pelaku pasar.

Ekspektasi inflasi sebenarnya hanya salah satu faktor yang membentuk inflasi aktual. Selain ekspektasi, inflasi antara lain juga ditentukan oleh upah, nilai tukar, kesenjangan output (selisih antara output riil dengan output potensial), harga administer (yang ditentukan pemerintah), harga di luar negeri, atau bahkan faktor yang sulit diukur seperti cuaca. Meski demikian, beberapa penelitian ternyata menunjukkan bahwa ekspektasi adalah faktor terpenting dalam menentukan inflasi aktual di Indonesia . Studi BI, misalnya, menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi menjelaskan 24%–84% variasi inflasi aktual selama 1997–2004, melebihi daya jelas komponen lain (Goeltom, 2007). Peran dominan ekspektasi dalam menentukan inflasi riil antara lain juga dibuktikan oleh penelitian Hutabarat (2005). Karena dominan mempengaruhi pergerakan harga riil, tidak mengherankan jika BI dapat menjadi begitu responsif dalam menyikapi dinamika ekspektasi. Sebelum kenaikan BI rate pada awal Februari lalu, kami mendapati Maret 2005 dan Mei 2008 sebagai titik awal pengetatan kebijakan moneter. Bukan kebetulan bahwa indikator ekspektasi inflasi pada saat itu memang berada dalam posisi yang relatif tinggi.

Lalu bagaimana ekspektasi inflasi itu bisa terbentuk? Ekspektasi inflasi dapat terbentuk dari proses pemikiran yang bersifat backward looking atau forward looking. Dengan pola pikir yang backward looking, agen ekonomi meramal arah tingkat harga ke depan berdasarkan data historis. Dalam hal ini, perubahan ekspektasi inflasi bersifat adaptif, artinya perubahan itu tergantung pada persepsi pelaku ekonomi mengenai inflasi, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang telah terjadi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan menaikkan harga produknya dalam merespons inflasi bahan pokok yang tinggi. Selama inflasi aktual (perubahan harga dari masa lalu ke masa sekarang) masih tinggi, perusahaan itu belum akan berhenti menaikkan harga. Sementara itu, ada ekspektasi yang disusun berdasarkan pola pikir yang forward looking. Kali ini, ekspektasi inflasi agen ekonomi mengacu pada target inflasi bank sentral dan upayanya untuk mencapai sasaran itu. Dalam kasus perusahaan tadi misalnya, perusahaan yang lebih berorientasi forward looking akan langsung menghentikan kenaikan harga produknya jika dia mendapati bahwa bank sentral sudah bertindak untuk menahan laju inflasi (dan dengan demikian percaya bahwa inflasi ke depan akan lebih terkendali).

Berbagai penelitian ternyata menunjukkan bahwa pola pikir yang backward looking terbilang dominan dalam mempengaruhi ekspektasi inflasi di Indonesia. Survei Mekanisme Pembentukan Harga yang dilakukan bank sentral menunjukkan bahwa pembentukan ekspektasi yang bersifat adaptif masih lebih dominan daripada yang bersifat forward looking (BI, 2005). Solikin dan Sugema (2004) juga menunjukkan bahwa kenaikan harga administer dan harga sembilan bahan pokok (sembako) sangat dominan dalam mempengaruhi ekspektasi inflasi perusahaan dan pedagang. Di sektor pangan, inflasi kebutuhan pokok ternyata juga paling dominan dalam mempengaruhi kebijakan harga petani beras dan cabe merah (Prastowo, Yanuarti, dan Depari; 2008). Dominasi pola pikir backward looking seperti ini tidak mengherankan karena kebijakan komunikasi BI terbukti belum efektif dalam mempengaruhi ekspektasi inflasi. Sebuah studi yang dilakukan Dewati, Anwar, dan Chawwa (2009), misalnya, menunjukkan bahwa 71,3% pelaku pasar di Indonesia tidak tahu bahwa BI memiliki target inflasi. Dari 29% yang mengetahui, hanya 0,1% yang bisa menyebutkan secara tepat target inflasi BI pada 2009, yakni 4,5%±1%. Mayoritas pelaku ekonomi bahkan meramalkan inflasi 2009 ada di level 10%, jauh melebihi kisaran sasaran bank sentral.

Di Indonesia, sekarang sudah ada beberapa indikator yang bisa dipakai untuk menjelaskan perkembangan ekspektasi inflasi. Survei Konsumen (SK) dan Survei Penjualan Eceran (SPE) yang diterbitkan tiap bulan oleh BI menampilkan indeks ekspektasi harga tiga dan enam bulan ke depan menurut perspektif konsumen dan pedagang. Menurut dua survei ini, indeks yang sebesar 100 menunjukkan perkiraan harga yang stabil selama tiga atau enam bulan ke depan. Indeks di bawah 100 menjelaskan ekspektasi penurunan harga, sedangkan indeks di atas 100 menunjukkan ekspektasi kenaikan harga. Selain dua survei ini, indikator ekspektasi inflasi juga bisa diketahui dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Survei Proyeksi Indikator Makro Ekonomi (SPIME, sebelumnya bernama Survei Persepsi Pasar) yang dirilis BI secara triwulanan. Berbeda dengan SK dan SPE, SKDU dan SPIME langsung menampilkan besaran inflasi (dalam %) yang diramalkan para pelaku usaha dan intelektual. Di samping publikasi keluaran bank sentral, informasi mengenai ekspektasi inflasi juga bisa diketahui dari hasil survei terhadap para ekonom yang dilakukan beberapa institusi swasta seperti Bloomberg, Reuters, atau Consensus Forecast.

Dari SK terkini, dapat diketahui bahwa ekspektasi inflasi konsumen memang sedang berada dalam tren meningkat, walau sebetulnya belum begitu mengkhawatirkan. Pada Februari 2011, indeks ekspektasi harga konsumen untuk tiga bulan yang akan datang mengalami kenaikan 4,2 poin dari posisi bulan sebelumnya. Indeks ekspektasi harga enam bulan ke depan naik 6 poin ke level 175,1, tertinggi sejak Oktober 2008. Sementara, SPE menunjukkan kenyataan yang agak berbeda. Indeks yang menunjukkan ekspektasi harga pedagang untuk tiga bulan ke depan tercatat naik 6,4 poin (MoM) pada Januari lalu, sedangkan indeks ekspektasi enam bulan malah turun dengan besar yang sama. Sejak 2009, indikator ekspektasi inflasi pedagang ternyata tak banyak berubah di posisi yang relatif rendah, berbeda dengan ekspektasi harga konsumen yang cenderung naik di saat yang sama.
Penulis: Seto Wardono, Senior Economist PT Indo Premier Securities