Tags

, , ,

Cacingan adalah salah satu penyakit yang tergolong tinggi kejadiannya di Indonesia. Siapapun bisa terinfeksi bila pola hidupnya kurang higienis. Cacing bisa masuk ke dalam tubuh anak-anak lewat makanan yang pengolahannya tidak baik dan tidak sehat.
Misalnya, sayuran yang tidak dicuci bersih atau daging yang dimasak kurang matang. Cacing juga bisa masuk lewat pori-pori kulit, jika anak sering main tanah dan kotor-kotoran tanpa mencuci tangan sesudahnya. Obat cacing hanya diberikan apabila anak diduga menderita cacingan.
Tanda-tanda anak cacingan adalah :
  • kurus namun berperut buncit
  • berat badan tidak naik meskipun nafsu makan baik
  • anak gelisah di malam hari dan suka menggaruk bokongnya
  • gangguan lambung dan usus seperti mulas dan diare berkala
  • anak terlihat lesu dan tidak bergairah
  • demam yang hilang timbul
Cacing akan menyerap zat gizi dalam tubuh dan membuat kurus anak yang diserang. Tanda pasti untuk cacingan adalah ditemukannya telur atau larva cacing di dalam pemeriksaan feses. Namun perlu diperhatikan bahwa obat cacing hanya diberikan untuk mereka yang memang mengalami cacingan. Obat cacing tidak digunakan sebagai pencegah.
Pada anak usia 1 tahun, obat cacing hanya diberikan sesuai dengan indikasi yaitu terdapat tanda anak cacingan dan didukung dengan pemeriksaan feses yang positif. Menurut kami, anak ibu tidak terlalu khas tandanya untuk cacingan. Kami sarankan untuk membawa anak Anda ke dokter apabila memang peningkatan berat badannya di bawah normal atau memiliki tanda-tanda yang kami sebutkan di atas.
Untuk pencegahan cacingan, ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangannya sehabis bermain kotor-kotoran, terutama tanah. Untuk orang tua, cucilah sayuran di air mengalir dan masaklah daging hingga benar-benar matang.
Mengenai masalah selera makan pada anak Anda, pastikan anak Anda mendapatkan nutrisi yang mencukupi. Beberapa penyebab lain yang menyebabkan anak tidak mau makan diantaranya adalah :
  • Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan, sehingga anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, coklat, snack,dll. Akibatnya ketika jam makan tiba anak  sudah kekenyangan. Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat seperti potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake.
  • Minum susu terlalu banyak . Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan “dewa” yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur & lauk pauknya. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu. Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kalsium dan fosfor sendiri mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah. Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan
  • Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan. Cobalah untuk memvariasikan menu makan anak. Hal ini akan tergantung pintarnya ibu memberikan makanan bervariasi. Bila anak tidak mau nasi bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dll. Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu
  • Anak merasa terganggu dengan jam makan. Anak usia 1 tahun sedang aktif-aktifnya untuk bermain dan mempelajari sekitarnya. Makan dapat dianggapnya mengganggu aktivitas yang dilakukan. Apabila anak tidak mau makan maka cobalah untuk menyuapinya dalam suasana anak sedang bermain atau menonton tivi. Pada suasana tersebut umumnya anak sedang senang hatinya dan mau disuapi makanan
Yang perlu diingat baik-baik oleh setiap orangtua adalah seberapapun anak susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan. Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yang baik, terus belajar menjadi orangtua & memahami kondisi anak, serta bersabar.