Booming layanan online trading (OLT) sejak setahun terakhir mendongkrak pertumbuhan transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Volume dan nilai transaksi harian di bursa menunjukkan kenaikan cukup pesat. Di akhir Desember 2010, volume transaksi harian di BEI berkisar 3,543 miliar saham, dengan valueRp 3,904 triliun. Angka tersebut masing-masing tumbuh 80,3% dan 65% dibanding perdagangan awal Januari 2010.

Pertumbuhan juga terlihat di tahun ini. Per 1 Agustus 2011, saat IHSG mencetak rekor tertinggi di level 4.193,441, volume transaksi harian di pasar reguler BEI mencapai 6,564 miliar saham. Angka tersebut meningkat 85,3% dibanding volume transaksi di akhir 2010. Nilai perdagangan pun mencapai Rp 5,425 triliun, atau lebih tinggi 39% dari nilai transaksi di akhir tahun lalu.

Aktivitas bursa yang kian sumringah ini tidak terlepas dari perkembangan bisnis online trading (OLT) di perusahaan sekuritas. Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun bahkan mengklaim, saat ini sekitar 70% volume transaksi di bursa disumbang dari transaksi online trading. Meskipun secara nilai (value), OLT baru menyumbang 10% dari total nilai transaksi harian.

Artinya, jika mengacu pada transaksi  1 Agustus  2011, OLT menyumbang volume transaksi hingga 12,939 miliar saham dari total transaksi 18,464 miliar saham. Sedangkan, dari nilai transaksi harian, OLT berkontribusi Rp 1,850 triliun dari total nilai transaksi Rp 18,505 triliun.

Layanan OLT mulai diperkenalkan perusahaan sekuritas sejak 2003 silam. Namun, layanan ini baru marak ditawarkan para broker sejak setahun lalu. Booming bisnis OLT terlihat dari terus bertambahnya jumlah sekuritas yang menawarkan layanan ini. Data BEI menunjukkan, dari 119 Anggota Bursa (AB) atau broker, 56 AB sudah menawarkan layanan OLT atau Direct Market Access (DMA). Rinciannya, 50 broker menyediakan online trading, 12 mengusung konsep DMA, adapun yang menawarkan kedua layanan tersebut ada 6 broker.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) BEI Wan Wei Yiong menyebut, sejatinya OLT dan DMA merupakan dua transaksi yang sejenis. Online Trading atau DMA adalah fasilitas perdagangan yang disediakan broker, di mana perdagangan efek dikelola sendiri oleh nasabah tanpa intervensi manual dari trading desk.

Kedua fasilitas tersebut hanya berbeda pada karakteristik penggunanya. OLT umumnya dipakai nasabah ritel, dengan manajemen order secara manual oleh masing-masing nasabah. Sedangkan, DMA digunakan nasabah institusional, dengan manajemen order menggunakan aplikasi (algoritmic trading), sehingga lebih bagus dalam strategi perdagangan dan kecepatan bertransaksinya. Algoritmic trading adalah penggunaan program komputer berkecepatan tinggi untuk memasukkan order menggunakan program algoritma untuk memutuskan waktu, jumlah, dan harga saham yang ditransaksikan, tanpa intervensi manusia.

Dengan tidak lagi harus menggunakan trading desk untuk mengeksekusi order nasabah, maka perusahaan sekuritas bisa menghemat sumber daya manusia. Ujung-ujungnya, biaya operasional pun lebih rendah. Kepraktisan dan keefisienan online trading inilah yang memicu para broker melirik layanan ini.

Adikin menyebut, saat ini masih ada 19 broker yang sedang mempersiapkan layanan online trading. “Masih diproses. Kami menargetkan, sekitar 70 broker akan memiliki layanan OLT hingga akhir tahun ini,” ujarnya.

Target investor 1% dari jumlah penduduk

Sejalan dengan booming layanan OLT, BEI juga berharap bisa menggenjot jumlah investor. Yiong menyebut, tahun ini, bursa menargetkan setidaknya 1% dari penduduk Indonesia menjadi investor di pasar modal. Dengan mengacu jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta orang, maka setidaknya tahun ini bursa menargetkan sebanyak 2,4 juta investor, baik yang berinvestasi di pasar saham, surat utang, maupun instrumen lain yang diperdagangkan di BEI.

Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Ananta Wiyogo menyebut, hingga akhir tahun lalu, total 321.521 sub rekening efek yang tercatat di KSEI. Adapun, hingga akhir Juli 2011, jumlahnya sudah mencapai 346.864 sub rekening efek.

Yiong optimistis dengan adanya OLT, penetrasi pasar bisa lebih dalam. Pasalnya, investor bisa lebih mudah dan cepat membuka account. “Jarak sudah tidak menjadi kendala lagi,” ujarnya.

Selain itu, dia bilang, otoritas bursa juga mengambil peran untuk mendukung pertumbuhan nasabah. Di antaranya, dengan road show tim bursa ke daerah-daerah untuk memperkenalkan pasar modal. BEI juga menargetkan membuka meeting point di setiap provinsi pada tahun ini, untuk memperkenalkan investasi pasar modal kepada masyarakat.

Adikin menambahkan, dari sisi teknis, bursa siap mengakomodasi broker yang berniat membuka layanan OLT.  Selain itu, dia bilang, bursa juga terus meningkatkan kapasitas untuk mendukung transaksi. Saat ini BEI memiliki kapasitas 1 juta order, 500.000 trade, dan 2.500 order per detik.

Dengan adanya OLT, menurut Adikin, investor dari wilayah Indonesia bagian Timur dan Tengah juga mulai masuk. “Kita optimistis menggarap investor dalam negeri. Sebab, ketika pasar modal sudah matang, investor lokal yang akan menjadi pemain utama di bursa,” tandasnya.

Penuhi panduan online agar layak OLT

Pesatnya bisnis online trading tidak terlepas dari perkembangan infrastruktur dan teknologi. Direktur IT BEI Adikin Basirun menyebut, masyarakat sudah lebih mudah dan murah mengakses internet. Masyarakat juga sudah semakin melek investasi.

Nah, Adikin menyebut, sebelum meluncurkan layanan OLT, broker harus mengajukan izin ke bursa dan memenuhi syarat yang ditetapkan BEI. Ada serangkaian ketentuan dalam panduan penyampaian order secara langsung  (Panduan Online BEI) yang harus dipenuhi broker. Panduan online diterbitkan otoritas bursa pada Mei 2010, karena layanan OLT kian booming. Sekuritas yang sudah lebih dulu menawarkan layanan OLT wajib menyesuaikan dengan ketentuan tersebut.

Panduan online berisi standar minimal bagi broker agar layanan online tradingnya sehat dan aman. Beberapa aspek yang harus dipenuhi, antara lain aspek legal, yang salah satunya mewajibkan broker punya perjanjian risiko dengan nasabah terkait terkait kegagalan komunikasi atau risiko penyampaian order secara elektronik.

Lalu, aspek bisnis seperti non repudiasi, yaitu ketidakbolehan menyangkal order yang berasal dari nasabahnya. Oleh karena itu, broker harus punya cara yang bisa membuktikan order yang terjadi berasal dari nasabahnya, misalnya dengan menerapkan username, juga password.

Dari aspek teknis, sekuritas harus memastikan sistem keamanan data dan transaksi. Terakhir, aspek purnajual yang mewajibkan broker punya back up untuk mengantisipasi kerusakan sistem. Back up termasuk untuk mesin, listrik, server, aplikasi, juga tempat. “Broker harus punya rencana bisnis yang berkelanjutan atau continuity business plan,” terang Adikin.

Semua syarat minimal itu harus dipenuhi. Lalu, broker wajib menunjuk Independen Reviewer yang sudah memiliki Certified Information System Auditor (CISA), untuk menilai kelayakan sistemnya. Saat ini, ada 8 Reviewer yang diakui BEI. Mereka adalah AAJ Associates RSM, PT Audittindo Arin Prima, Ernst & Young, Insight Consulting, Deloitte, Anugerah Rekatama Cipta Solusi, PT Veda Praxis, serta Doli, Bambang Sudarmadji & Dadang.

Jika sistem sudah dinyatakan layak oleh Reviewer, maka masih akan dilakukan uji coba minimal satu kali di lingkungan pengembangan, dan satu kali di lingkungan produksi BEI. Jika semua lancar, Adikin berjanji dalam hitungan sebulan proses pengajuan izin OLT di bursa bisa rampung.

::Sumber: Kontan Online