Per definisi, investasi pada saham adalah jenis investasi jangka panjang. Tidak ada investasi saham yang bersifat mingguan apalagi harian. Tapi faktanya tidak sedikit yang bersemangat untuk bisa menikmati keuntungan dalam jangka pendek, bermain mingguan bahkan harian. Persoalannya, apakah investor lebih memilih memetik keuntungan jangka panjang secara rutin dalam bentuk dividen, atau lebih memilih horizon jangka pendek dengan memetik capital gain.

Konsekwensi pilihan seperti itu tidaklah sederhana. Bahkan konsekwensi ini melahirkan sedikitnya dua jenis investor di bursa saham yakni investor yang berorientasi jangka panjang (long term invesment) dan investor yang berorientasi jangka pendek (short term investment).

Investor yang lebih suka main panjang biasanya memiliki  amunisi yang cukup banyak. Ia tidak akan terburu-buru merealisasikan keuntungan yang bersifat sesaat, karena ingin memaksimalkan keuntungan. Jika saham yang dibelinya naik, ia tidak akan cepat-cepat menjual karena ia memang berorientasi untuk mendapatkan dividen. Sebaliknya jika harga saham turun, ia akan membeli lagi pada harga yang lebih rendah.

Karakter jangka panjang seperti itu akan menikmati keuntungan dalam dua bentuk, berupa dividen dan  berupa potensial gain. Jika ia menjual saham setelah menerima dividen berarti keuntungannya berupa dividen dan capital gain, yakni selisih harga beli dan harga jual saat itu.

Sedangkan investor yang lebih suka investasi jangka pendek, biasanya memang tidak dibekali dengan amunisi yang berlimpah. Ia mengharapkan bisa memetik gain dalam jumlah besar dengan memanfaatkan penyelesaian transaksi dengan system netting di bursa. Sebab, sistem netting membuka peluang bagi investor melakukan transaksi jauh di atas dana yang dimilikinya asal nett posisi nilai transaksi masih bisa ter-cover oleh dana yang dimiliki investor.

Namun begitu, dalam realitas, pemilahan dua jenis investor ini tidak terbagi secara tegas. Seringkali dua karakter itu ada dalam setiap investor di bursa dengan mengalokasikan portofolionya dalam jangka pendek dan jangka panjang. Berapa komposisi portofolio untuk jangka pendek dan berapa untuk jangka panjang sangat tergantung dari investor. Ada yang mengalokasikan fifty fifty, ada yang membagi 40% untuk jangka pendek dan 60% untuk jangka panjang.

Berapapun komposisi yang dibuat investor untuk investasi jangka pendek dan panjang itu sepenuhnya hak investor. Hanya saja sebagai bahan pertimbangan ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, pastikan bahwa dana itu memang benar-benar dana untuk diinvestasikan, tidak diganggu oleh kepentingan kebutuhan  rumah tangga. Dalam menyusun portofolio sebaiknya berpatokan pada fundamental emiten. Selain itu faktor risiko investasi di saham seharusnya sudah dipahami oleh investor. Risiko tersebut bisa mengurangi nilai asset yang diinvestasikan akibat potensial loss yang disebabkan turunnya harga saham. (Tim BEI)

::Sumber: Surabaya Post